Pages

Selasa, 20 Agustus 2013

PERKAWINAN

Perkawinan Diuji Oleh Waktu

Seiring berlalunya waktu, cinta dalam perkawinan bisa tak lagi semanis madu. Rutinitas pekerjaan, urusan rumah tangga, atau karier yang tengah menanjak, bisa merusak pelangi kebahagiaan yang dulu senantiasa dirasakan. Bagaimana agar hubungan suami-istri tak menjadi menjemukan?

Nuri (bukan nama sebenarnya) perempuan 37 tahun, eksekutif di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, mengeluhkan kehidupan perkawinannya yang telah memasuki tahun ke-8 kepada seorang konsultan perkawinan.

"Setahun belakangan ini perkawinan kami terasa hambar. Suami saya sering tugas ke luar kota, atau kadang ke luar negeri, sampai berhari-hari. Saya kadang juga harus kerja sampai larut malam. Tapi kami tidak pernah bertengkar hebat. Walau jarang bertemu, kami masih sering berkomunikasi lewat telepon atau SMS, terutama untuk urusan anak-anak. Sayangnya, kami belum pernah punya waktu khusus untuk membicarakan masalah ini.

"Kami dulu berpacaran tiga tahun, dan rasanya cukup untuk mengenalnya secara dekat. Kehidupan seksual kami pun awalnya sangat menggebu. Tapi beberapa tahun belakangan, berangsur menjarang. Bahkan kadang hanya dua atau tiga kali dalam sebulan. Entah, apakah ini pertanda kami mulai saling jenuh. Saya akui, saya sering tidak bisa melayaninya, karena kadang merasa lelah setelah seharian bekerja. Apa saya yang salah ya?"

Penuturan Nuri sesungguhnya keluhan dari seseorang yang peduli kepada perkawinannya. Ia menyadari, masalah yang kini sedang dihadapinya berpotensi menjadi bom waktu yang suatu saat bisa meledak dan memporak-porandakan keutuhan rumah tangganya. Namun, untuk menyelesaikan persoalan itu sungguh tidak mudah. Pola rutinitas sehari-hari seakan telah menjebaknya dan membuatnya tidak bisa keluar sejenak untuk memperbaikinya.
Lagi dong, Boss...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar